Korsel Jajal Jaringan 5G Komersial Pertama di Dunia!

Berbagai negara terus berusaha hingga bisa menjadi negara pertama yang menggunakan jaringan 5G secara komersial. Dari banyak negara, ternyata negara yang mampu mewujudkan hal tersebut lebih dahulu ternyata adalah Korea Selatan(Korsel).

Korsel memang dikenal sebagai negara dengan kecepatan internet tinggi. Negeri Gingseng ini memang juga menjadi salah satu negara yang sangat memperhatikan betul permasalahan internet, tak heran jika jaringan 5G juga menjadi perhatian penting bagi negara tersebut.

Tanggal 1 Desember 2018 lalu, Korsel meluncurkan jaringan 5G yang sudah bisa dinikmati warga Seoul dan akan merambat ke wilayah lain dari negara tersebut. Dengan ini, Korsel menjadi negara pertama yang menggunakan secara komersial jaringan 5G ini.

Sebenarnya, Amerika Serita juga telah melakukan hal serupa. Verizon  yang merupakan salah satu operator negara tersebut meluncurkan jaringan 5G ke kota termasuk Los Angeles. Masalahnya, jaringan yang diluncurkan tersebut ternyata tidak didukung oleh hardware memenuhi standar 3GPP  selaku badan standarisasi.

Dengan hal ini, maka Korsel merupakan negara pertama yang memperkenallkan jaringan 5G secara luas sesuai dengan standar.

SK Telecom, KT dan LG Uplus luncurkan jaringan 5G

SK Telecom, KT dan LG Uplus yang merupakan operator asal Korsel meluncurkan jaringan 5G secara luas pada 1 Desember 2018 lalu. Peluncuran ini membuat negara tersebut menjadi negara pertama yang menggunakan jaringan 5G secara komersial.

Meskipun sudah meluncurkan jaringan 5G secara komersial, namun memang untuk saat ini penggunanya baru tersedia dalam segmen enterprise.

Alasan jaringan 5G saat ini hanya tersedia di segmen enterprise dikarenakan smartphone saat ini belum bisa mendukung jaringan 5G. Sejauh ini, smartphone yang ada baru bisa mendukung jaringan 4G. Dengan situasi ini membuat jaringan ini belum bisa digunakan langsung oleh pemilik smartphone.

Dengan hadirnya jaringan 5G di Korsel dan beberapa negara lain yang juga berencana meluncurkan jaringan serupa, vendor smartphone yang juga sedang mengembangkan dukunga jaringan 5G tampaknya akan mempercepat kinerja sehingga bisa menciptakan smartphone dengan dukungan jaringan 5G.

Di Indonesia, beberapa provider juga telah melakuan uji coba jaringan 5G. Bukan tidak mungkin layanan ini juga bisa dirasakan di Indonesia dalam waktu dekat.

Persaingan Amerika-China Juga Terjadi di Teknologi 5G

China sedang menjajaki apakah penggabungan antara dua operatornya akan mengamankan keunggulannya di 5G di AS. Disisi lain, China juga bisa bekerja di negara bagian yang mendukung T-Mobile.

Perang perdagangan negara yang sedang berlangsung antara AS dan China dikatakan telah mendorong diskusi tentang bagaimana hal itu dapat memimpin dalam teknologi terbaru.

Penggabungan yang diusulkan antara dua dari tiga operator nirkabel China – China United Network Communication Group (China Unicom) dan China Telecommunications Corp (China Telecom) – bertujuan untuk mempercepat pengembangan layanan 5G.

Jika digabungkan, jaringan akan memiliki total hampir 600 juta pelanggan – menutup kesenjangan dengan China Mobile yang memiliki lebih dari 900 juta pelanggan. Keduanya akan mewakili jaringan nirkabel terbesar di dunia.

Bekerja dalam mendukung T-Mobile

T-Mobile AS saat ini sedang mencoba merger bersejarahnya sendiri dengan Sprint sebagai bagian dari kesepakatan senilai $ 26 miliar yang juga akan membawa jumlah pelanggan gabungan operator lebih dekat ke jaringan seluler terbesar di negara itu, AT & T dan Verizon.

Proposal ini sedang dicermati oleh regulator. Beberapa peningkatakan mengalami kekhawatiran pengurangan ke tiga operator utama akan menyebabkan pasar yang kurang kompetitif. T-Mobile dan Sprint berpendapat jika penggabungan diizinkan untuk dilanjutkan, itu akan membantu mereka menyebarkan layanan 5G lebih cepat.

Dengan perlombaan antara China dan AS untuk menjadi pemimpin di 5G. Regulator AS dapat melihat merger yang akan datang di China sebagai memberikan keuntungan besar. Akibatnya, mereka mungkin melihat merger T-Mobile / Sprint dalam yurisdiksi mereka sendiri dengan lebih baik.

Dalam kedua kasus tersebut, kemungkinan konsumen akan terpukul. Meskipun merger dapat mengarah pada peningkatan akses ke layanan, pengurangan dalam persaingan pasar kemungkinan akan meningkatkan harga. Hal ini dikarenakan operator berusaha untuk menutup biaya yang dikeluarkan untuk peningkatan jaringan.

Menurut Eric Xu, Ketua perusahaan peralatan telekomunikasi China raksasa Huawei, sebagian besar konsumen bahkan tidak akan melihat ‘perbedaan mendasar’ menggunakan 5G dari 4G.

Mari ktia tunggu, siapa yang akan lebih dahulu merealisasikan teknologi 5G. Apakah Amerika yang memang dikenal memiliki teknologi canggih, atau China yang sebagia kuda hitam?

Mungkinkah 2019 Smartphone 5G Mulai Dipasarkan?

Saat ini, smartphone yang dijual ke publik telah mendukung jaringan 4G. Teknologi jaringan ini merupakan kelanjutan dari teknologi sebelumnya yaitu 3G.

Meskipun sebenarnya 4G sudah cukup lama ada, tetapi jaringan dan dukungan smarpthone memang baru bisa dirasakan akhir-akhir ini. Pengguna smartphone pun semakin dimanjakan oleh berbagai vendor yang menawarkan smartphone yang sudah mendukung jaringan 4G.

Perkembangan sudah pasti, dan kini teknologi 5G digadang-gadang akan segera masuk secara komersil. Baik dari sisi jaringan maupun perangkat, 5G diprediksi tidak lama lagi akan bisa dirasakan secara global.

Tapi apakah di tahun 2019, teknologi 5G baik jaringan maupun smartphone sudah akan menjamur seperti halnya teknologi 4G hari ini?

Beberapa vendor baik layanan internet maupun smartphone saat ini memang telah menyiapkan berbagai persiapan mengenai teknologi 5G. Ini bukan hanya menjadi pekerjaan bagi vendor internet, namun juga pada vendor smartphone yang harus bisa menerapkan 5G dengan baik.

Tahun 2019, meskipun teknologi 5G diprediksi mulai dikembangkan secara pulik, tetapi penerapan pada smartphone sendiri membutuhkan waktu yang lebih lama dari itu.

Kendala 5G pada smartphone

Penggunaan teknologi 5G pada smartphone memang menemui beberapa hambatan. Mulai dari bagaimana peletakan 5G di smartphone yang memakan ruang cukup besar hingga daya baterai yang sangat boros menjadi isu utama bagaimana penggunaan 5G di smartphone nantinya.

Pekerjaan rumah bagi para vendor tersebut memang diprediksi membutuhkan waktu yang cukup lama. Setidaknya jika Anda berpikir bahwa layanan 5G bisa digunakan secara global pada tahun 2019, tampaknya ini terlalu cepat.

Penggunaan teknologi 5G memang diprediksi terus dikembangkan, namun untuk 2019, masih banyak kendala yang perlu diselesaikan oleh pihak-pihak terkait sehingga bisa merealisasikan smartphone dengan teknologi 5G yang bisa dinikmati secara global seperti halnya teknologi 4G saat ini.

Di Indonesia sendiri, jaringan 4G sendiri belum ada merata diseluruh Indonesia. Beberapa daerah bahkan masih belum tersentuh internet 4G sehingga untuk berbicara 5G tampaknya untuk Indonesia masih terlalu sore.

Pemerataan 4G yang hingga kini masih terus dilakukan di Indonesia sendiri masih menjadi pekerjaan rumah bagi vendor. Tampaknya untuk di Indonesia sendiri, tahun 2019 – 4G masih menjadi primadona khususnya bagi daerah yang belum merasakan jaringan tersebut.